Rabu, 01 Januari 2014

Diposting oleh Unknown di 21.10 0 komentar

Keunikan Dari D.I.Y

 DIY adalah akronim untuk Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan salah satu kota budaya di Indonesia. Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Yogyakarta juga tempat wisata yang sering dikunjungi setelah pulau Bali. Selain itu Yogyakarta cukup terkenal di tingkat nasional dan internasional. Karena, kaya akan budayanya dan banyak hal istimewa lainnya. Hal istimewa yang lain itu adalah unik. Salah satu keunikan dari jogja adalah G. Mengapa G? Sebab kebanyakan isi Kota Yogyakarta adalah G.

 

Gudeg
(bahasa Jawa gudheg) adalah makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan. Perlu waktu berjam-jam untuk membuat masakan ini. Warna coklat biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu dan sambal goreng krecek.
Ada berbagai varian gudeg, antara lain:
  • Gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental, jauh lebih kental daripada santan pada masakan padang.

  • Gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer.
    Getuk
    (bahasa Jawa: gethuk) adalah makanan ringan yang terbuat dengan bahan utama ketela pohon atau singkong. Getuk merupakan makanan yang mudah ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pembuatan getuk dimulai dari singkong di kupas kemudian kukus atau perebusan, setelah matang kemudian ditumbuk atau dihaluskan dengan cara digiling lalu diberi pemanis gula dan pewarna makanan. Untuk penghidangan biasanya ditaburi dengan parutan buah kelapa.



     
    Gunung Merapi
    Memiliki ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006 adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

    Pasar Beringharjo
    adalah pasar tradisional yang terletak di Jl. Jend A. Yani Kawasan Malioboro, Yogyakarta. Pasar ini terkenal dengan koleksi dagangan batik, baik yang berupa kain batik ataupun produk garmen batik lainnya seperti, daster, celana pendek, piyama dll. Pasar ini terkenal sebagai salah satu tujuan wisata dan sekaligus merupakan pusat kegiatan perdagangan produk batik Yogyakarta.

     Museum Benteng Vredeburg
    adalah sebuah benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan istana Kesultanan Yogyakarta. Sekarang, benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah bangunan di dalam benteng ini terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia.







    Tugu
    adalah sebuah tugu atau menara yang sering dipakai sebagai simbol/lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta. Tugu yang terletak di perempatan Jl Jenderal Sudirman dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.
     
    Andong
    merupakan salah satu alat transportasi tradisional di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti Solo dan Klaten. Keberadaan andong sebagai salah satu warisan budaya Jawa memberikan ciri khas kebudayaan tersendiri yang kini masih terus dilestarikan.

    Kebun Binantang Gembira Loka
    kebun binatang yang berada di Yogyakarta. Berisi berbagai macam spesies dari belahan dunia, seperti Orangutan, Gajah Asia, Simpanse, Harimau, dan lain sebagainya. Kebun Binatang Gembira Loka menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan Yogyakarta. Gembira Loka Zoo sempat rusak parah akibat gempa bumi yang mengguncang kota Yogyakarta tahun 2004. Tetapi, setelah direnovasi Kebun Binatang Gembira Loka tetap dicari para wisatawan.

     Gerabah Kasongan
    adalah daerah tujuan wisata di wilayah kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dengan hasil kerajinan gerabahnya. Tempat ini tepatnya terletak di daerah pedukuhan Kajen, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.






    Pantai Parangtritis
    merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir di sekitar pantai, yang biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak Pemkab Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis. Ada juga ATV, kereta kuda & kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat.

    Geplak
    adalah makanan khas kota Bantul yang terbuat dari parutan kelapa dan gula pasir atau gula jawa, yang rasanya manis.
     
    Goa Selarong
    sekarang merupakan objek wisata dengan dilengkapi area bumi perkemahan. Objek ini berlokasi sekitar 14 km arah selatan Kota Yogyakarta, di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon. Di sekitar Gua Selarong juga sedang dikaji pengembangan objek agrowisata dengan klengkeng sebagai daya tarik utama.

    Air Terjun Sri Gethuk
    merupakan salah satu wisata alam yang terdapat di daerah Gunungkidul tepatnya di Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Air terjun ini berada di tepi Sungai Oyo.
    Dan masih banyak lagi G, G yang lain. Yogyakarta memang istimewa. Memang unik!


    sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2013/10/01/g-keunikan-dari-diy-597551.html
Diposting oleh Unknown di 20.44 0 komentar

 Rumah Limas Sumatera Selatan

 

Sudah menjadi kodratnya bahwa manusia dalam kehidupannya dilengkapi dengan akal, hawa nafsu dan hati nurani. Dengan bekal tersebut manusia memberikan tanggapan terhadap lingkungan alam sekitarnya dalam bentuk kreasi seni, adat budaya dan kepercayaan. Keingintahuan manusia membuat dirinya kagum, hormat, tunduk dan memujanya. Dengan perlengkapan itu pula manusia ingin tahu daya kekuatan alam yang meliputi dirinya, baik berupa daya kehidupan yang langsung berkaitan dengan manusia seperti kehidupan dan kematian.
Lingkungan alamnya, dalam pengertian masyarakat Sumatra Selatan di sebut kekuasaan marga, merupakan tempat tinggal, mencari nafkan dan dikebumikannya para anggota persekutuan yang meninggal. Atas dasar hubungan magis religius, semua itu mempunyai keterkaitan antara manusia dan sistem kepercayaan yang melebur menjadi satu. Dengan kata lain menyususn satu mata rantai gaib yang tak terpisahkan. Melahirkan berbagai tata laku dan simbol-simbol, salah satunya tercermin dalam arsitektur rumah adat.
Senada dengan pernyataan Yudohusodo, (1991) rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi manusia disamping sandang dan pangan. Oleh sebab itu rumah mempunyai fungsi yang sangat penting yang tidak hanya sebagai sarana kehidupan semata, tetapi perumahan juga merupakan suatu proses bermukim kehadiran manusia dalam menciptakan ruang lingkup di lingkungan masyarakat dan alam sekitarnya.
Di Sumatra Selatan, seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, terdapat karya seni arsitektur yaitu Rumah Limas dan masih bisa kita temukan sebagai rumah hunian di daerah Palembang. Rumah Limas Palembang telah diakui sebagai Rumah Adat Tradisional Sumatera Selatan. Secara umum arsitektur Rumah Limas Palembang, pada atapnya berbentuk menyerupai piramida terpenggal (limasan). Keunikan rumah Limas lainnya yaitu dari bentuknya yang bertingkat-tingkat (kijing). Dindingnya berupa kayu merawan yang berbentuk papan. Rumah Limas Palembang dibangun di atas tiang-tiang atau cagak.
Baiklah segera kita perinci Rumah Limas Sumatra Selatan ini dari segi arsitektur, kegunaan ruang dan makna filosofinya. Dari segi arsitektur, bentuk rumah Rumah Limas terdiri dari bentuk ruang persegi dan persegi panjang dengan arah hadap rumah ke timur dan barat atau dalam falsafah disebut menghadap ke arah Matoari eedoop dan mato ari mati. Dalam pemahaman kalangan masyarakat Palembang, mato ari eedoop berarti “matahari terbit” atau secara filosofi diartikan sebagai “awal mula kehidupan manusia”. Sementara mato ari mati jika diterjemahkan secara leksikal berarti “matahari tenggelam” dan dalam artian lain bermakna sebagai tanda dari “akhir kehidupan atau kematian”. Secara personal, sebagai pengingat siklus kehidupan manusia dari lahir hingga mati. Jika dilihat dari tata letak ruang penandaan arah tersebut menunjukkan adanya pembagian bangunan depan dan belakang.
Rumah Limas Palembang dibangun di atas tiang-tiang yang terbuat dari jenis kayu unglen yang berjumlah 32 buah atau kelipatannya. Rumah limas Palembang merupakan rumah panggung yang bagian kolongnya merupakan ruang positif untuk kegiatan sehari-hari. Ketinggian lantai panggung dapat mencapai ukuran 3 meter. Untuk naik ke rumah limas dibuatlah dua tangga kayu dari sebelah kiri dan kanan. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis dibalik pagar kayu itu adalah untuk menahansupaya anak perempuan tidak keluar rumah.
Pada bagian lantainya dibuat bertingkat-tingkat atau biasa disebut kekijing dengan menggunakan kayu jenis tembesu yang berbentuk papan (persegi panjang) disusun secara horizontal menurut besaran masing-masing ruang. Sementara pada dinding Rumah Limas dibuat dari kayu jenis merawan yang berbentuk papan, dengan cara penyusunan dan besaran yang sama dengan papan pada lantai.
Pada bangunan depan Rumah Limas Palembang terdapat Jogan, Ruang kerja, Gegajah Pada ruangan ini terdapat Amben (Balai/tempat Musyawarah) yang terletak lebih tinggi dari lantai ruangan (+/- 75 cm). Ruangan ini merupakan pusat dari Rumah Limas digunakan saat pemilik rumah menggelar hajatan, upacara adat, kenduri atau pertemuan-pertemuan penting, interaksi kehidupan sosial serta dekorasi. Sebagai pembatas ruang terdapat lemari yang dihiasi sehingga show/etlege dari kekayaan pemiliki rumah.
Pangkeng Penganten, (bilik tidur) terdapat dinding rumah, baik dikanan maupun dikiri. Untuk memasuki bilik atau Pangkeng ini, kita harus melalui dampar (kotak) yang terletak di pintu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan rumah tangga. Berikutnya adalah ruang Kepala Keluarga, Pangkeng Kaputren adalah kamar anak perempuan, Pangkeng Keputran adalah kamar anak laki-laki, Ruang Keluarga, dan Ruang Anak Menantu. Semetara pada bagian belakang terdiri dari Dapur atau pawon, Ruang Pelimpahan, dan Ruang Hias/Toilet. Pembagian ruang secara fisik berfungsi batasan aktivitas yang berlangsung di rumah berdasarkan tingkat keprivasiannya.
Secara personal, sikap pribadi masyarakat Palembang menjunjung tinggi kehormatan laki-laki dan wanita. Dan secara sosial, menunjang citra diri kebudayaan Palembang yaitu dengan menjunjung tinggi norma-norma adat yang berlaku di masyarakat. Bentuk rumah yang luas merupakan gambaran kondisi sosial budaya masyarakat Palembang yang menjunjung tinggi sifat kebersamaan dalam bentuk gotong royong.
Namun demikian, dengan bentuk ruang dan lantai berkijing-kijing pada rumah Limas, manandakan bahwa rumah limas memiliki tata aturan sosial yang rapi. Tempat duduk para tetamu pada saat sedekah/kenduri seolah sudah ditentukan berdasarkan status tamu tersebut. Para ulama, pemuka masyarakat, saudagar duduknya pada tempat kijing yang tinggi sedangkan yang lain menyesuaikan diri dengan kedudukannya. Apabila dilanggar maka orang tersebut menjadi kaku, karena rasa segan/canggung ataupun rasa takut dan malu.
Jambi adalah salah satu jalur perdagangan yang ramai di massa pra kolonial. Sehingga pada sisi kebudayaan masyarakatnya pun banyak terpengaruhi faktor-faktor budaya luar, seperti pengaruh dari budaya India, Gujarat, dan Eropa. Perkambangan budaya masyakat Jambi tersbut tercermin dari gaya ornamen dan ukiran pada Rumah Limas. Dalam hal ini, pengaruh Islam sangat tampak pada ornamen maupun ukirannya. Hingga kini ukiran pada atap dan dinding ruang gajah atau gegajahan tidak lagi menampilkan bunga teratai atau hewan yang menandakan kepercayaan hindu dan budha, telah digantikan oleh lukisan bunga dan daun sebagai simbol utama lukisan itu. Motifnya mirip dengan Arabesque Simbar/Paku tanduk simbar menjangan (Platycerium Coronarium).
Simbol-simbol tersebut perlahan mengantarkan pemahaman siapa pun yang memasuki rumah Limas pada kesadaran bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT dan kesadaran akan keagungan-Nya. Serta pada keberadaan utusan-Nya demi tertatanya kehidupan di dunia dan akhirat, dan pada para khalifah yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam. Khususnya di Jambi dan pada umumnya di Indonesia.


sumber:  http://kebudayaanindonesia.net/id/culture/1004/rumah-limas-sumatera-selatan
 

Delaa Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos